Feed on
Posts
Comments

Siapa Menabur Benih

akan mendapat kiriman buah-buahan.  Ceritanya begini, hari Minggu kemarin Bapak saya mendapat sekarung buah berbau harum menyengat -yaitu 10 butir durian besar-besar jenis Monthong yang mirip-mirip dengan durian punya Bapak di kebun- dari tetangga sekampungnya.  Dengan tersenyum malu-malu sang tetangga berkata,

 ”Jadi gini Pak, saya mohon maaf dulu sebelumnya, kurang lebih 10 tahun lalu, anak saya yang bengalnya minta ampun itu mencuri buah durian di kebun Bapak. Nah dari biji-bijinya itu sudah tumbuh jadi pohon. Dan sekarang sudah berbuah lebat. Ini saya kirim ke Bapak sebagian hasil panennya dan juga sekalian mohon maaf atas kelakuan anak saya”. 

“Ya ya ya, dimaafkan. Dan sering-sering kirim lagi ya”…

Nah hari ini di kantor, saya mendapat satu plastik kresek buah Matoa yang aslinya kata orang tumbuhnya cuma di Papua sana. Wah saya sampai heran orang Papua mana yang kirim-kirim ke saya. Nining kuning blening, tetangga meja saya menjelaskan,

“Dari mas Riza, katanya 10 tahun lalu dia mendapat buah Matoa dari Mira, itu tuh yang kiriman dari pacar kamu dulu itu lho yang di Irian”… (kenapa sih bagian ini yang diingat-ingat? gerutu saya dalam hati)

“Nah dulu biji-bijinya dia tanam, dan sekarang sudah berbuah” lanjut Nining.

“Ooo” jawab saya. Kemudian saya telpon Mas Riza untuk berterima kasih.

“Mas makasih ya kiriman Matoanya”

“Iya, itu kan dari buah Matoa yang dulu kiriman pacarmu itu lho”

Ebuset kenapa sih bagian ini terus yang diulang yah?…

Mas Riza meneruskan “Oh ya, sebetulnya dari 6 tahun lalu juga udah rajin berbuah lho..”

“lha kok baru ngasihnya sekarang?”

“hehehe…..lupa..”

“Ya udah lain kali jangan lupa lagi ya..hehehe”

Jadi kesimpulannya, sering-seringlah bagi-bagi buah-buahan kepada teman, atau kalau ada yang mencuri dari pohon kita, relakan saja. Sepuluh tahun lagi ternyata bisa balik lagi dalam jumlah lebih banyak. Hehehehe.

Kerupuk

Tahukah Anda bahwa bikin kerupuk itu pake celana? Becandaan jadul yang garing pisan yah? Saya belum menemukan di antara teman saya yang tidak suka kerupuk. Kalau yang tergila-gila banyak. Bahkan beberapa bulan sekali dari kantor kami di Bandung biasanya memaketkan satu dus ukuran jumbo yang muat beberapa orang meringkuk di dalamnya untuk mengirimkan berjenis-jenis kerupuk ; yang katanya made in Bandung emang paling enak, ke teman-teman di kantor pusat Jakarta. Dus besar yang kalau ditendang itu ringan banget, isinya macam-macam, dari aneka gurilem tak berwarna atau berwarna merah yang dicurigai memakai zat pewarna tekstil, kerupuk jengkol, kerupuk bondon, sampai ke yang klasik seperti gendar, dan yang model baru, kerupuk seblak yang rasa bawang, plain, atau yang pedasnya luar biasa, sampai rasanya kita jadi naga berapi kalau memakannya.

Yang saya maksud disini sih adalah kerupuk dari bahan baku tapioka yang murah meriah itu. Kalau yang terbuat dari bahan lain entahlah. Saya perlu menanyakan pada ahli sejarah kerupuk untuk pengkategorian silsilah kerupuknya seperti apa, sepertinya di wikipedia sih dijelaskan bahwa kerupuk itu bersaudara dengan keripik, kerepek, rengginang, rempeyek, emping dan sebagainya. Wah banyak sekali saudara si kerupuk ini. Ternyata wikipedia Sunda lebih lengkap memuat tentang kerupuk atau kurupuk ini, apakah karena banyaknya tukang kerupuk yang berasal dari Priangan Timur atau apa, saya tidak tahu. Iseng-iseng saya sih memang suka nanya pada tukang kerupuk yang lewat, asalnya dari daerah mana. Itung-itung sensus tukang kerupuk, ternyata rata-rata berasal dari Ciamis.

Ada teman saya yang ogah makan kalau tidak makan kalau nasinya tidak ditemani kerupuk, dia akan mencari kerupuk dulu kesana kemari. Ada juga teman sekelas waktu SMA dulu, yang kalau sedang makan dan kami teman-temannya nebeng atau nyoro, dia akan teriak-teriak “AMBIL AYAMNYA TAPI JANGAN KERUPUKNYA!!!” Dan akan menutupi kerupuk di piringnya seperti induk ayam melindungi anaknya. Aneh ya?. Tapi kalau saya sendiri walaupun bukan kerupuk mania, sering terkangen-kangen dengan kerupuk mie yang kuning dan digoreng dengan pasir bukan pakai minyak, dengan sambal pedasnya. Yang paling top yaitu kerupuk mie sambal yang dijual Ceu Ibeng, jauh di SD di daerah Pantura sana tempat saya sekolah dulu yang atapnya sering bocor dan dindingnya dari bilik itu. Sambal pedasnya yang berbau terasi akan menguar baunya di udara di pagi hari saat beliau menggelar dagangannya. Harganya? Rp 5,- saja satu biji sudah dikucuri sambal. Makan 5 saja dijamin kita bisa puas dan juga sakit perut dengan biaya murah sekali. Sekarang kerupuk mie isi 10 harganya Rp 2500,- waduh, kalau dulu kayaknya bisa dapat sewadah besar setanggungan tukang kerupuk bahkan mungkin dengan tukang kerupuknya sekalian.

Kalau ibu saya lain lagi, dia sering bernostalgia dengan memasak babanggi, yaitu kerupuk mentah yang masih dalam proses penjemuran, dan dimasak dengan dioseng campur cabe hijau dan apalah lainnya. Katanya di masa kecil jaman susah sandang pangan dulu, seringkali nenek saya membuat masakan tersebut. Nah sekarang saya mau menunggu tukang kerupuk yang lewat dulu, siapa tahu hari ini mau lewat depan rumah. Sudah seminggu ini mungkin gara-gara hujan terus di pagi hari, dia mogok jualan.

Dina Poe Ahad

Dina wanci pasosore poe Ahad ieu, hujan ngaririncik ti beurang keneh. Angin nyiwiwik ngahiliwir tiris. Ah ceuk kuring dina gegetun kalbu, keur kieu mah pantesna nyieun kueh. Kueh nu ngeunah tur hipu jang batur cikopi panas. Ngagidig kuring indit ka toko swalayan deukeut jalan gede beh ditueun birit komplek paimahan. Dipapayung da hujan can raat keneh wae. Babaseuhan jeung rada kikiciprikan, tapi kuring henteu honcewang sumoreang, tekadna keur nyieun kueh tea moal mundur satapak, cadu mundur pantang mulang mun maksud tacan laksana. Merjuangkeun nyieun kueh tea!

Kusabab hayang gaya, kuring milihan bahan ngahaja nu rada aheng. Coklat nu jang dileehkeuna oge milihan nu rada mahal. Kitu oge milih mantegana. Lain ku margarin buluben nu biasa, tapi make butter! Teu make merk Wijsman, da asa mahal teuing ah ceuk pikir kuring teh, turun kasta saeutik carita na mah kana merk Butterfly (naha sarua jeung merk mesin kaput nya?) nu penting aya we atuh babauan nu seungitna sangkan siga kueh mahal. Tidituna mah kuring teh hayang nyieun brownies kukus. Oleh-oleh nu keur top markotop ti Bandung tea. Ceuk pikir kuring mah, jijieunan kuring teh da moal eleh ieuh lah ku brownies kukus Amanda nu kasohor tea.

Sanggeus milihan bahan, kuring karak inget yen teu boga loyang, nya sakalian we da aya didinya, kuring meuli nu ukuran sedeng. Rp 9500,- hijina teh. Halah, sainget kuring jaman taun iraha ka pasar jibrug asa hargana teh ngan duarebuan. Aya ku mararahal beuki ka kiwari teh geuning harga barang jeung bahan teh. Dipikir-pikir deui bebeulian bahan jeung huhujanan kieu, asa jadi leuwih mahal tibatan meuli brownies nu geus jadi. Tapi pan ari nyieun sorangan mah ku banggana oge matak leuwih bakal ngeunah karasana. His name is also effort, eta pamadegan kuring.

Balik ka imah kuprak kepruk pak pik pek jeung brang breng brong di dapur nyiapkeun bahan. Tipung sagala rupa geus siap jeung diayak heula. Gula bubuk nu lemes aya.  Endog aya. Mantega aya. Loyang aya. Coklat aya. Listrik ge karek ditaekeun kamari ieu, teu kapalang ku kuring ditaekeun nepi ka 3300 watt, sangkan oven microwave nu unggal dihurungkeun ngabeledug tea bisa dipake ayeuna mah.

Naha ana bet rek dikocok teh geuning kuring karek inget yen kuring teh teu boga Mixer!.

Ngabaraga yuk!

Libur panjang minggu lalu, saat Bandung dijejali pendatang dari kota lain yang tidak bosan-bosannya memadati Factory Outlet, kami dari kampung Gajah berencana untuk ”ngabaraga” dan “ngasia-aprika”. Ceritanya mau memotret napak tilas Bandoeng Tempo Doeloe sesuai tempat-tempat yang ada di buku dengan judul yang sama.  Tujuan utama kami adalah mulai dari Balai Kota Bandung lalu berjalan kaki menuju Jalan Braga yang legendaris. Kata Braga dikatakan kuncen Bandung Haryoto Kunto berasal dari kata “ngabaraga” yang berarti tempat bergaya atau mejeng (the place to see and to be seen). 

Saya menunggu yang lain datang di BMC jalan Aceh. Makan mie yang kelamaan direbus (kalau Bianca Castafiore pasti sudah ngamuk) dan susu murni dengan es bearoma rempah.  Menurut saya sih rasa bumbu spekkoek, campuran antara kayu manis dan pala.  BMC adalah singkatan dari Bandoengsche Melk Centrale.  Pusat susu kota Bandung dan bahkan Nusantara pada jaman dahulu kala saat tai kotok masih dilebuan atau jaman kuda ngegel beusi, ceunah mah.  Tapi buat saya, BMC sekarang berhubung bangunannya sudah direnovasi habis-habisan, malah kehilangan daya pikat nuansa tempo doeloe-nya.

Dulu saking keren BMC di buku Haryoto Kunto disebutkan Direkturnya pernah sesumbar “Vergeet U niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indie slechst een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale !” (”Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu, dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale!”).  Continue Reading »

Nonton Konser Mang Toto di Sabuga

Walaupun tempat saya bekerja menjadi salah satu satu sponsor konser Toto di Bandung, tanggal 14 Maret 2008 kemarin, saya tetap membeli tiket seperti orang normal lain dan ikut mengantri bersama orang-orang normal lainnya pula. Tidak berusaha memperoleh customized solution (alias privilege) untuk masuk di jalur antrian khusus atau menyelinap ke tempat VVIP. Karena saya bermotto jangan kayak orang susah dan menyadari prinsip siapa gue (sepertinya terdengar ada nada sakit hati disini ya? hihihihi). Becanda kok, saya enjoy sekali di konser ini seperti nanti yang akan saya ceritakan di paragraf berikutnya pada posting ini.

Setelah mendapat tempat duduk di sayap kiri atas, kami yaitu Jay (jangan diklik blognya udah lama ga apdet) Abiwara (demikian juga blog yang ini) Wesly (ini paling parah, sama sekali ga apdet), Bunda, Hky, Lola, Starchie (wah saya lupa link blognya) mendapat pemandangan spektakuler yaitu gerhana panggung. Gara-gara terhalang speaker di pinggir panggung yang gelap dan hitam menghalangi para pemusik mancanegara tersebut. Lola sudah misuh-misuh, dan saya yakin kalau dia yang jadi EO-nya yang masang speaker disitu pasti babak belur Lola gebukin. Ya sudahlah, seperti kata nenek saya selalu bilang “kalau kita di*sensor* dan tidak dapat berbuat apa-apa, lebih baik dinikmati saja.

Nah saya ini termasuk orang yang tidak bisa mengasosiasikan sesuatu -tepatnya mengingat dengan baik- wajah orang dengan namanya, judul lagu dengan lagunya, nama jalan dengan belokannya, apalagi nama-nama personel pemain musik dengan grup bandnya. Nyerah deh!. Saya mah mendengarkan saja dengan kagum percakapan Jay dan Abi tentang Bobby Kimball, Steve Lukather, Simon Phillips dan entah siapa lagi. Yang katanya Bobby pernah keluar dan masuk lagi (eh bener ga sih si Bobby?) dan seperti biasa saya menelurkan pertanyaan tidak penting seperti “terus pas keluar dia ngapain?”.

Dan sumpah bukannya saya tidak menikmati lagu-lagu Toto. Kan saya angkatan jadul, gila aja kalau saya ga tau lagu macam Rossana, Pamela, dan segudang nama-nama wanita lainnya. Ya ya beberapa bahkan ada yang saya tidak tahu juga sih. Tapi Abi dan Jay bisa menjelaskan dengan komprehensif judul lagunya dan dari album apa, bahkan dengan sejarah penciptaan lagu tersebut. Luar biasa daya ingat mereka. Tapi apa daya di tengah konser saya ketiduran juga akhirnya.

Berhubung saya punya jam ngantuk jam 10 malam sampai dengan jam 12 malam, dan di waktu-waktu ini saya akan rungsing seperti orok yang pingin digendong dan kangen bantal, maka pas Simon Phillips main-main drum -dan tanpa meleset- tidak seperti Abi yang katanya stiknya sering mecleng atau menggebuk ke belakang, tapi gak kena- di saat itulah saya malah tidur. Payah sekali. Sama payahnya bila nonton mitnait atau main bilyar, saya akan tidur dulu di tengah permainan atau di saat film sedang rame-ramenya.

Gencet!

Tadi siang saya melihat siswi-siswi SMU entah mana yang memakai rok ketat yang menjauhi lutut sejauh-jauhnya dan juga kaus kaki yang ditarik panjang mengejar rok yang lari menjauh tadi. Bando rambut plastik mencolok berwarna elektrik, kemeja putih ketat dipakai tanpa kaus dalam dengan tangan baju dilinting. Tampak menerawang. Mungkin karena pengaruh Bandung yang suhunya makin panas. Global warming, remember?. Saya pernah melihat dandanan model sekolahan begini di tayangan sinetron entah judul apa. Bahkan bila di sinetron tampak sekali para siswi tersebut ber-full make up. Aneh. Jaman sekarang engga ada yang namanya digencet yah? Continue Reading »