PROFESIONALISME DALAM PERSPEKTIF SERIKAT PEKERJA PEREMPUAN TELKOMSEL
Tentang Profesionalisme : Definisi
Ada pepatah lama menyebutkan “knowledge is what you have in your head but skill is what you can do with your knowledge” dan “people don’t care how much you know until they know how much you care”.
Kaitannya dengan profesionalisme kerja apakah sesorang yang memiliki sikap profesional adalah orang yang memilki high skill level atau high care? Dalam dunia kerja dan perusahaan, sering kita mendengar kata profesionalisme dan tuntutan sikap profesional dalam menjalankan bisnis dan pekerjaan kita. Sering pula kita dengar dalam diskusi ataupun pengarahan dari manajemen bahwa karyawan dituntut untuk bersikap profesional, dan demikian pula halnya ditujukan kepada anggota Serikat Pekerja Telkomsel sebagai karyawan perusahaan.
Dimana Serikat Pekerja hendaknya memperhatikan profesionalisme kerja, dan tidak hanya memikirkan dan melakukan tuntutan akan haknya sebagai karyawan saja. Pendefinisian profesionalisme memiliki banyak tingkatan dan pengertian yang berbeda. Seringkali kita menilai seseorang atau perusahaan memiliki sikap profesional sementara mungkin orang lain menilai tidak.
Tapi secara prinsip definisi profesionalisme memiliki satu nilai atau core basic yang sama. Secara harfiah dan ide, beberapa definisi profesionalisme dapat dijabarkan sebagai berikut : “a focused, accountable, confident, competent, motivation toward a particular goal, with respect for hierarchy and humanity, less the emotion.” “ the idea that membership of a profession carries with it a set of internalized values that will be reflected in the way in which work is carried out and the ethical standards that are adhered to” .
Profesionalisme Sejati : The Courage to Care about Your People, Your Client, Your Customer, Your Career
Bila kita tanyakan pendapat orang misalnya perbedaan antara great secretary dan good secretary, maka kita dapat memperoleh jawaban bervariasi dan diantaranya sebagai berikut:
Great Secretary :
- bertanggungjawab atas pekerjaannya - selalu mencari berinisiatif untuk memperoleh cara menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan “solving problem”
- menunjukkan komitmen dalam hal memberi kualitas pekerjaan dengan standar kerja yang tinggi
- selalu berusaha untuk mempelajari dan menambah pengetahuan terutama tentang bisnis dan pekerjaan di perusahaan mereka berada
- belajar untuk berpikir dan bertindak sesuai cara orang yang mendelegasikan wewenang, sehingga dapat mewakili orang tersebut saat dibutuhkan
- memiliki kemampuan mendengarkan dan memahami serta menerjemahkan ke dalam hasil pekerjaan - berinisiatif, tidak hanya menunggu apa yang diperintahkan
- team player
- dapat dipercaya, jujur dan loyal terhadap perusahaan
- terbuka terhadap kritik yang konstruktif dan berusaha untuk mengingkatkan kemampuan kerja
Bila kita ingin mendapat ringkasan dari deskripsi diatas, kita dapat menyimpulkannya dalam satu kalimat singkat : Great Secretary care.
Kita dapat memperoleh satu poin pertama bahwa definisi diatas dapat dimodifikasi untuk mendefinisikan karakteristik yang membedakan misalnya dari Great Consultant dan Good Consultant. Deskripsi diatas adalah menjadi hal rasional untuk menjabarkan bagaimana menjadi pekerja yang memiliki sikap profesional. Poin kedua kita dapat simpulkan bahwa hal-hal tersebut diatas memiliki perbedaan besar dengan apa yang kita sebut sebagai kemampuan secara teknis.
Bisa saja seorang konsultan IT kita sebut sebagai great consultant karena hasil kerjanya secara teknis adalah excellent, karena misalnya sangat sedikit orang lain yang mampu menghasilkan output yang secara teknis luar biasa rumit dan sulit bagi orang awam. Tapi apakah seorang teknisi atau konsultan yang notabene pintar dan memberi hasil kerja yang memuaskan dapat kita langsung sebut sebagai seseorang yang profesional?
Seorang teknisi dapat saja memiliki skill level yang tinggi tapi belum dapat kita sebut sebagai seorang yang profesional sampai dia mampu menunjukkan dan secara konsisten memiliki sikap-sikap yang terdaftar diatas. Profesionalisme adalah cara kerja yang lebih didominasi oleh sikap , bukan hanya satu set daftar dari skill dan kompetensi yang dimiliki. Dapat dicermati bahwa attitude adalah sikap yang mendasar sementara skill adalah suatu hal yang dapat dipelajari dan diajarkan. Jadi teknisi yang profesional adalah teknisi memilki high skill level yang tinggi dan juga memilki sikap care.
Profesionalisme saat ini menjadi bentuk yang harus melekat pada setiap entitas, setiap perusahaan dan setiap karyawan yang berinteraksi dalam pasar global. Jika tidak,maka dihadapkan pada satu pilihan, termarginalkan dan collaps. Jadi seluruh pelaku pasar dunia yang memasuki pasar global terus melakukan penyesuaian dari segi skill untuk dapat mempertahankan daya saing dan eksistensinya. Profesionalisme dalam pandangan tradisional masih menganggap bahwa menjadi profesional artinya berkompetisi. Konteks demikian mendasari beberapa pemikiran bahwa pekerja baik pria maupun wanita harus “spent more time for jobs not for home”.
Jadi berupaya menjadi profesional adalah oleh sebagian diartikan sebagai segala bentuk optimalisasi dari potensi atas kemampuan kerja untuk lebih meningkatkan daya saing. Sebagai bagian dari dunia kerja, Serikat Pekerja (unionism) mensikapi pemikiran dan tuntutan profesionalisme ini dengan sebuah perspektif yang lebih konstruktif dan fair.
Tanpa menolak tuntutan profesionalisme dalam pekerjaan, Serikat Pekerja Telkomsel termotivasi untuk empowering themselves, baik dalam peningkatan high skill level maupun attitude. Karena disadari oleh pekerja bahwa menjadi profesional adalah sekaligus memiliki integritas pada perusahaan, sekaligus mengupayakan lingkungan kerja yang lebih harmonis, menyenangkan, dan sejahtera bagi semua.
Catatan: tulisan disarikan dari berbagai sumber, yaitu dari artikel-artikel yang saya baca entah dimana, workshop yang terkadang harus saya ikuti, dan training yang terpaksa saya jalani, walaupun bila boleh saya katakan, semua saya selesaikan dengan -pada akhirnya- senang hati. Dan ini ditulis saat saya dituntut untuk menulis sesuatu yang serius atas keterlibatan saya dalam organisasi serikat pekerja. Tolong dicatat juga kadang-kadang saya tidak tahu maksud tulisan saya itu apa. Namun segala bentuk protes, kritik, cacian, dan pujian akan saya anggap hal yang biasa dan saya tampung sebagaimana mestinya dalam puke bucket, dan saya anggap semua sebagai bukti kenarsisan saya di blog ini mendapat tanggapan yang seharusnya.



BAGUS BANGET mih.
Ini kenapa tidak dikirim ke SIGNAL untuk diikutkan lomba mih? Eh, atau sudah dikirimkan yah?
*barusan ngirim tulisan*
#2 udah dimuat kok, tapi lupa kapan
yang ke detect abe yg ini mih. Keren, sak kantor langsung pengen ke bandung euy.
keren….
Waduh mbak, makasih banget artikelnya! cukup membantu saya dalam tugas Mata Kuliah “Bimbingan Karir” di D3 Komunikasi Bisnis, FIKOM Universitas Padjadjaran.
Kalo gak ada artikel mbak, duh.. gak lengkap deh tugas saya..
artikel mbak membuka gambaran saya tentang profesionalisme itu sendiri..
Wah, sekali lagi makasih yah mbak..
Ada bahan buat di omongin deh di Presentasi nanti
oia, kalo ada kesempatan, masuk ke :
http://www.kombis-online.com yah mbak..
kasih saran ajah, buat para calon profesionalisme dan entrepreneur tentang web itu.. hehehe..
Wah…..bagus banget….Keren…!!
Pas banget untuk para pekerja… untuk mengetahui PROFESIONAL sesungguhnya….
Kadang kita dituntut atasan untuk Profesional….dengan harus bla…bla….bla… But The Question ??
Apakah atasan kita bisa Profesional atau….NATO….????
Warning !!!
Jangan terjebak oleh Profesionalisme dalam arti sempit…
Thanks…..
Kalo NATO emang ada juga yang jadi kerjaanya begitu. Contoh tukang seminar, pasti Nato terus. Tinggal bagaimana mengaplikasikannya. He..he.
Menarik sekali tulisannya.